Posted by: chandrarisdian | February 12, 2008

Manfaat Tanaman Herbal

 

Masyrakat Indonesia sejak zaman dahulu percaya dengan khasiat tanaman yang ada di sekitarnya.

Namun, kepercayaan ini semakin lama semakin menurun seiring dengan perkembangan zaman, kita jadi lebih terbiasa dan lebih mempercayai obat-obatan dari barat, yang terkadang harganya bisa melambung tinggi dan bahkan ada juga sebenernya yang khasiatnya juga tidak terbukti.

Berikut ini adalah kutipan dari salah satu media yang membahas tentang tanaman herbal di Indonesia beserta khasiatnya :

JAKARTA(SINDO) –Mempelajari etnobiologi masyarakat Indonesia ternyata sama dengan mempelajari tentang kehidupan. Saat ini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali menelusuri potensi sumber daya obat tradisional dari pengetahuan lokal. Misalnya,bagaimana cara mengatasi penyakit malaria yang dilakukan oleh masyarakat di pesisir Pantai Kawasan Papua secara tradisional.

Meskipun masyarakat setempat tidak mengatakan itu sebagai penyakit malaria karena keterbatasan pengetahuan mereka, namun gejala penyakit yang dialami mereka sama dengan malaria. Ketika mendapatkan masalah ini, masyarakat biasa memanfaatkan khasiat tumbuh-tumbuhan untuk mengobatinya.

Kepala Herbarium Bogoriense Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi LIPI Eko Baroto Walujo mengakui teknologi tradisional sudah hampir terlupakan.Padahal, seharusnya teknologi tradisional tersebut bisa dipelajari dan diperbaharui dengan inovasi baru.Tidak hanya itu, dari sisi ilmiah tradisi lokal bisa ditelaah dan menjadi sumber masukan bagi pengembangan teknologi dalam negeri.

“Itu pengetahuan dari sisi mereka. Kemudian kita buktikan secara ilmiah apakah benar dalam komponen tumbuhan itu ada unsur-unsur kimia tertentu yang memang potensial untuk melawan malaria. Ini yang sedang kita kerjakan,” paparnya kepada SINDO di sela-sela acara Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional IX di Mercure Convention Center, Jakarta, kemarin.

Eko mengatakan, tim peneliti LIPI telah mengumpulkan beberapa jenis tumbuhan yang dikoleksi dari tradisi lokal. Di antaranya, jenis tumbuhan marga Brucea javanica (sejenis pohon perdu / kwalot) yang berpotensi untuk melawan malaria. Jenis pohon ini banyak digunakan oleh masyarakat sepanjang pinggir pantai Kalimantan.Meskipun hanya bermodalkan pengalaman, kenyataannya masyarakat memang menggunakannya sebagai obat malaria.

Saat ini tim peneliti baru mencapai tahapan ekstraksi dari tanaman ini dan diuji coba pada tikus putih. Jika memang terbukti potensial untuk pengobatan malaria, maka memang bisa dipraktikkan sebagai bahan baku medis.

“Sejak tahun lalu Tim LIPI meneliti tanaman ini dimulai dengan screening dan memastikan kandungan bahan kimia yang potensial. Akhirnya, diuji coba pada tikus putih sayangnya ada beberapa kendala. Apalagi saat ini jenis tanaman ini semakin terancam keberadaannya akibat kebakaran hutan,”paparnya.

Selain ditemukan pada masyarakat pesisir, praktik memanfaatkan daun sukun ini juga ditemukan pada masyarakat yang tinggal di lokasi dekat danau atau banyak air menggenang. Cara pengolahannya,hanya dengan direbus baik itu secara tunggal maupun dicampur dengan ramuan tumbuhan yang lain. Biasanya pencampuran dengan bahan lain untuk memenuhi keseimbangan berbagai unsur.Baik unsur panas maupun dingin harus terwakili.

Praktik masyarakat pedesaan yang memasak tidak menggunakan periuk berbahan besi, melainkan dari bahan tanah juga dianggap sebagai penetralisasi. “Padahal yang panas itu misalnya bisa dicampur jahe sebagai penghangat.Jika tubuhnya hangat maka sirkulasi darahnya menjadi baik. Kemudian, unsur yang dingin menetralkannya.Unsur-unsur inilah yang perlu kita gali,”ungkapnya.

LIPI bekerja sama dengan peneliti China untuk meneliti daun sukun yang dianggap berkhasiat mengobati penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung. Masyarakat Cilacap menggunakan daun ini sejak bertahun-tahun lalu.Penelitian ini dilakukan guna mengetahui apakah ada kandungan kimia tertentu dalam pohon sukun yang hidup di daerah Cilacap atau juga dari daerah lainnya.

Termasuk untuk mengetahui spesifikasi mikro lokasi geografisnya. Apalagi peneliti China telah melakukan penelitian lebih dulu dan mereka menemukan komponen bioaktif tertentu dalam daun sukun yang berpotensi mengobati penyakit kardiovaskular. “Kerja sama ini sudah berjalan sejak dua tahun yang lalu,”ujar Eko.

Selain itu juga sedang diteliti imunomodulator dari kelompok tanaman Zingeberaceae (tanaman obat kelompok empon-empon). Ada beberapa kelompok kecil yang sudah mulai dengan konsentrasi untuk menemukan zat dalam empon- empon yang bisa digunakan untuk melawan HIV.

Eko mengakui penelitian terhadap potensi empon-empon untuk memerangi HIV ini masih screening tahap awal.Yakni baru dilakukan pengumpulan semua jenis empon-empon kemudian diteliti besar kecilnya kandungan bioaktif di dalamnya.

“Siapa tahu suatu saat kita bisa ada resep tradisional seperti di China yang tersedia di apotekapotek. Kami meneliti emponempon untuk HIV karena sudah banyak literatur yang mengatakan kandungan empon-empon memang memiliki potensi untuk itu. Di Indonesia tempatnya emponempon, jadi memang harus diteliti,”katanya.

Sedangkan para peneliti dari Institut Teknologi Bandung,kunyit atau Curcuma memiliki potensial untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Namun, ini masih dalam tahap penelitian. Sedangkan Universitas Airlangga malah telah membuka studi jurusan yang mempelajari khusus obat tradisional. Bukan hanya potensi alam masyarakat tradisional saja yang belum tergali.

Kemampuan pengetahuan masyarakat lokal tentang obat-obatan tradisional yang cukup baik belum dimaksimalkan. Misalnya dalam hal berburu mereka memiliki praktik yang unik.Mulai penggunaan racun yang ditempatkan pada ujung panah yang berasal dari ramuan dengan pembagian dosis tertentu tergantung target buruan yang akan dicari. Racun untuk berburu binatang kecil berbeda dengan binatang besar, dengan tujuan ketika dikonsumsi manusia tidak menjadi beracun.

Praktik ini, salah satunya dilakukan oleh Suku Anak Dalam di Sumatera atau Dayak. Kemudian untuk waktu berburu pun, misalnya pada Masyarakat Suku Atoni yang berburu rusa di Timor Tengah Utara, mereka mematuhi interval waktu periode tiga kali pohon kapuk berbunga baru boleh berburu lagi. Jika melanggar adat ini, akan menerima sanksi sosial.Ternyata secara interval waktu destinasi sekitar 19 bulan, yang merupakan siklus maksimum rusa berkembang biak. (abdul malik)


Responses

  1. bagus sekali tanaman itu hasiatnya alami dantidak menimbulkan efek samping

  2. aku sasngat dukung terutama didaerah masyarakat masih kuat dengan obat obatan tradisional maju terus tigkatkan kwalitas dan kwantitasmu sebagai anak bangsa yg berfrestasi

  3. tolong paparkan identifikasi dan rumusan masalah dari tanaman herbal kayu putih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: